Industri Penerbangan Perlu Pihak ketiga

Industri Penerbangan Perlu Pihak ketiga
Edwin Soedarmo

Murah senyum, berpawakan tegap dan berpenampilang sederhana merupakan cerminan dari pribadi Edwin Soedarmo. Saat ini ia berkiprah dalam industri penerbangan, mengkhususkan di bidang konsultan.

Menggeluti sektor aviasi bukanlah hal yang baru lagi baginya. Sebagai seorang President Director di CSE Aviation, Edwin memiliki visi dalam dunia penerbangan, yaitu excellent dan world class transportation services.

Laki-laki yang gemar mengajar ini ternyata memiliki mimpi terhadap bidang yang digeluti, yaitu menjadi sebuah perusahaan konsultan yang diakui di wilayah ini dengan memiliki proyek dalam negeri 60 persen dan proyek asing 40 persen.

Mengapa dunia aviasi perlu konsultan? Edwin menjabarkan bahwa setiap perusahaan yang bergerak di bisnis airlines perlu pihak ketiga, yaitu konsultan. Solusi ini mampu menyegarkan kembali suatu company terutama menyangkut gaya kepemimpinannya. Pemimpin tidak hanya mengejar uang tetapi leadership yang kuat

Dalam menjalankan bisnis public service seperti penerbangan, menurut Edwin, harus hati-hati karena mempunyai tanggungjawab yang besar. Dengan adanya konsultan, maka bisnis dapat selalu diawasi, menguatkan passion (semangat) serta ada metodenya.

Namun faktanya di lapangan tidak seperti itu. Pasalnya, banyak perusahaan di bidang aviasi yang pemimpinya tidak memiliki jiwa kepemimpinan yang solid dan cenderung ikut-ikutan. Tak heran kalau muncul kasus penerbangan liar.”Rute sesukannya diatur dengan mindset (pola pikir) yang terbalik, sehingga terjadi kekacauan di industri ini,” kata mantan CEO PT. Dirgantara Indonesia ini.

Belum ada yang di banggakan

Hal senada juga diungkapkan Samudra Sukardi, Business Partner CSE Aviation, bahwa penerbangan di sini belum ada yang bisa di banggakan dan belum ada yang mampu bersaing di tingkat regional, apalagi internasional

Apa alasannya? Samudra mengutarakan karena soal-soal itu belum diatur dengan baik, para pemegang saham di posisi teratas belum mengetahui airlines secara menyeluruh, belum mengetahui bisnis penerbangan. Begitu juga dengan karyawannya yang tidak tahu industri dirgantara ini, serta para penumpang yang tidak tahu persis bagaimana menjadi penumpang pesawat.

“Kesemuannya itu, memang perlu pihak lain yaitu consulting, yang dalam hal ini mampu memberikan arahan khusus sesuai bisnisnya. Karena yang terpenting dan harus selalu diingat bahwa penerbangan itu merupakan bisnis padat operasi, padat teknologi dan padat modal,” tegas Samudra.

Persoalan yang kerap terjadi, menurut Sam (panggilan akrabnya), penerbangan kekurangan inspektor untuk audit setiap airline, namun sekarang justru pinjam inspektor airlines lain, jadi airlines mengaudit airlines. Seharusnya, dalam hal ini harus ditangani oleh audit independen, tetapi sejauh ini pendelegasian audit independen belum ada aturannya.

Lokal content ditingkatkan

Edwin mengatakan, infrastruktur dan pengawasan dalam industri penerbangan tidak berimbang dengan pertumbuhan transportasi udara. Untuk itu, kontribusi lokal content harus meningkat menjadi 40-50 persen.

Pemimpin yang gemar gitar klasik ini menjelaskan komponen penerbangan (content) sebagian besar dari luar negeri, seperti pesawat, pelatihan kru, maintenance, suku cadang, konsultan bahkan pilotnya juga. Melihat kondisi seperti ini, maka Indonesia harus bisa memimpin dengan memenuhi kebutuhan industri, “Kita punya pabrikan, kita punya sekolah, bahkan kita punya konsultan”.

Edwin memiliki hasrat yang membara dengan pola pikir dan perilaku yang utuh (full) dengan mengedepankan pelayanan terhadap kepentingan sesama dan kebutuhan consumer. Memiliki kinerja yang tidak ingin di bawah standar, tidak mudah putus asa serta kreativitas dalam mencari jalan keluar.

CSE Aviation Service

Perusahaannya diambil dari nama former CEO, yaitu “C” Chappy Hakim – Air Chief Marshal (ret) yang sebelumnya former Chief of staff of Indonesian Air Forces, Former Chairman of EKKT dan expert in Defence Matters. “S” Samudra Sukardi, MMIS, MSIS, sebelumnya VP of PT Garuda Indonesia Airways dan CEO PT Avacus Indonesia, Former CEO Pelita Air Service, CEO Riau Airlines, CEO Pacific Royale Airways, expert in Aviation Business Development. “E” Ir. Edwin Soedarmo, MM-MBA yang sebelumnya sebagai CEO PT. Dirgantara Indonesia, experts in airworthiness safety & audit, expert in flight testing.

CSE Internasional memastikan ahli yang berkualitas untuk proyek dan manajemen risiko. Solusi bisnis strategis disediakan oleh manajemen tingkat atas yang berpengalaman. Pengembangan database berisi informasi penting tentang pasar, proses dan teknologi aviasi.