{"id":836,"date":"2020-01-24T07:57:44","date_gmt":"2020-01-24T07:57:44","guid":{"rendered":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=836"},"modified":"2020-01-24T07:57:45","modified_gmt":"2020-01-24T07:57:45","slug":"cse-aviation-konsep-pendidikan-penerbang-masa-datang-part-v","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=836","title":{"rendered":"CSE Aviation &#8211; KONSEP PENDIDIKAN PENERBANG MASA DATANG (Part V)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"> Prediksi Tentang Konsep Pendidikan Penerbang Masa Datang Berbasis Pada Analisa Tantangan \u2013 Tantangan Yang Dihadapi Industri Penerbangan Di Indonesia Saat ini <br><em>Oleh<\/em><br><em>Edwin Soedarmo \u2013 CSE Aviation Consultant<\/em><br>Jakarta, Januari 2020<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\"><strong>V.<\/strong> <strong>PREDIKSI SEKOLAH PENERBANG MASA DATANG\u00a0 <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Konsep Pelatihan Penerbang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tugas penerbang yang sangat dibutuhkan saat ini adalah kemampuan penerbang untuk berpindah atau menyeberang diantara pengetahuan dasar penerbang dan \u201c<em>modern management<\/em>\u201d dalam penerbangan komersial. Pergantian tersebut hanya dapat berfungsi dengan baik jika kedua \u201cskill sets\u201d tersebut benar \u2013 benar dilatih, dikembangkan dan selalu ditingkatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan makin bertambahnya kompleksitas operasi\npenerbangan, maka untuk <em>prediksi<\/em>\nkedepan, bahwa pencapaian \u201c<em>performance\nlevel<\/em>\u201d tertentu dalam pelaksanaan sebuah tugas (<em>task<\/em>) akan merupakan indikasi yang lebih baik bagi kompetensi\nseorang pilot dibandingkan dengan jumlah jam latihan. Walaupun demikian, jam\nterbang masih tetap dapat menjadi sebuah ukuran tidak langsung dari sebuah\ntingkatan kompetensi. Prediksi ini adalah merupakan reaksi terhadap model\npelatihan yang berbasis jumlah jam terbang (<em>hours-based\ntraining<\/em>) dimana jumlah jam terbang tersebut atau <em>sortie<\/em> yang dilakukan oleh seorang pilot menjadi penentu dari\nkesiapan terbang.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu analisa <em>prediksi<\/em>\nkedepan penting lainnya didalam pelatihan pilot adalah dengan digunakannya\npendekatan <strong><em>evidence-based training<\/em><\/strong>. ICAO mendefinisikan <em>evidence-based training<\/em> sebagai <em>training<\/em> dan <em>assessment<\/em> berdasarkan pada pengembangan dan penilaian \u201c<em>overall capability<\/em>\u201d siswa latih\ndisepanjang rentang \u201c<em>core competencies<\/em>\u201d\nberbasis data \u2013 data operasi aktual. Pendekatan ini berbeda jika dibandingkan\ndengan pendekatan pelatihan yang telah dilakukan selama ini yaitu melakukan\npengukuran pada \u201c<em>performance individual\nevents<\/em> atau <em>manoeuvres<\/em>\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>Elemen penting dari <em>evidence-based<\/em> training yang di \u201c<em>introduce<\/em>\u201d kedalam <em>competency-based<\/em> training adalah adanya\nsebuah referensi yang merujuk pada data \u2013 data operasi aktual yang dapat\ndigunakan sebagai sebuah sarana untuk mengidentifikasi \u201c<em>key competencies<\/em>\u201d, disamping analisa \u2013 analisa pendukung lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada dasarnya <em>evidence-based\ntraining<\/em> tetap menerapkan prinsip \u2013 prinsip keselamatan maupun <em>airline operation<\/em> yang efektif dan\nefisien yang ada didalam <em>competency-based\ntraining<\/em> disamping juga dapat mengatasi masalah ancaman terhadap\nkeselamatan penerbangan. Istilah \u201c<em>evidence<\/em>\u201d\nmerujuk pada kenyataannya bahwa ancaman keselamatan dapat diidentifikasi dari <em>data\n\u2013 data monitoring<\/em> penerbangan yang sesungguhnya, seperti data \u2013 data yang\ndiberikan oleh <em>Flight Operation Quality\nOperation (FOQA)<\/em>, <em>Aviation Safety\nAction Program (ASAP)<\/em> untuk bisnis aviasi, demikian juga dengan data \u2013 data\nyang dapat diperoleh dari <em>Automatic\nDependent Surveillance-Broadcast (ADS-B)<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gambar 6<\/strong>, menggambarkan kosep kombinasi \u201c<em>Competency \u2013 Evidence Based\u201d Training<\/em> diatas. Pendekatan dengan konsep baru ini untuk pelatihan penerbang masa depan (<em>Next Generation Pilot<\/em>) adalah sesuai dengan prinsip \u2013 prinsip bahwa lingkup cakupan (<em>context<\/em>) pelatihan yang terbaik adalah dimana pelatihan tersebut akan digunakan dalam dunia yang sesungguhnya.\u00a0\u00a0\u00a0  Dalam <strong>Gambar 6<\/strong>, inti dari konsep baru pelatihan penerbang ini masih tetap berbasis pada kompetensi serta <em>knowledge &amp; skill,<\/em> namun kemudian diberikan pelatihan \u2013 pelatihan yang berorientasi pada <em>task<\/em> dan <em>scenario<\/em> terbang yang dikembangkan dari data \u2013 data aktual penerbangan. Kombinasi ini membutuhkan keterkaitan antara kegiatan pengembangan \u201c<em>simulated scenario events<\/em>\u201d dan \u201c<em>performance measures<\/em>\u201d, dimana kedua \u2013 duanya diturunkan dari tujuan pelatihan (<em>training objective<\/em>). Pelatihan yang memfokuskan diri pada \u201c<em>scenario &amp; simulation<\/em>\u201d akan memberikan fondasi kuat bagi siswa latih untuk sebuah pendekatan yang berpusat kuat pada \u201c<em>mission accomplishment<\/em>\u201d  <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"410\" src=\"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Sociotechnical-adalah-interaksi-antara-people-dan-technology-di-tempat-bekerja-1024x410.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-837\" srcset=\"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Sociotechnical-adalah-interaksi-antara-people-dan-technology-di-tempat-bekerja-1024x410.jpg 1024w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Sociotechnical-adalah-interaksi-antara-people-dan-technology-di-tempat-bekerja-300x120.jpg 300w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Sociotechnical-adalah-interaksi-antara-people-dan-technology-di-tempat-bekerja-768x308.jpg 768w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Sociotechnical-adalah-interaksi-antara-people-dan-technology-di-tempat-bekerja.jpg 1406w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption><br> <strong><em>Catatan:<\/em><\/strong><em> Sociotechnical\u00a0adalah interaksi antara <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/People\">people<\/a>\u00a0dan\u00a0<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Technology\">technology<\/a> di tempat bekerja<\/em> <br> <strong>Gambar 6: <\/strong>Pengembangan Konsep Pelatihan Baru Untuk Penerbang Masa Depan <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><em>Re-view<\/em>\nkepustakaan yang dilakukan oleh beberapa peneliti juga menunjukkan bahwa pendekatan\nkombinasi kompetensi, <em>evidence<\/em> dan <em>scenario-based training<\/em> dapat\nmembentuk basis bagi sistem pelatihan penerbang generasi berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun\nrutin penerbangan sehari \u2013 hari saat ini maupun untuk masa datang akan didorong\noleh automatisasi, tetapi hukum \u2013 hukum fisika aviasi masih tetap sama dan\nbelum berubah. \u201c<em>Basic flying skill<\/em>\u201d masih tetap harus dilatih untuk\nmembentuk dasar yang kuat dimana setiap penerbang dapat kembali kedasar\ntersebut jika dibutuhkan. Atau dengan kata lain \u201ckemampuan penerbang untuk <em>hand-fly\nthe airplane<\/em> dan keluar dari <em>upset situation<\/em>\u201d tetap terpelihara<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Non-teknis Pelatihan Penerbang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mengandalkan hanya pada \u201c<em>pilot technical knowledge &amp; skill<\/em>\u201d belumlah cukup untuk dapat mengoperasikan \u201c<em>complex aircraft<\/em>\u201d dengan selamat dalam lingkungan dunia penerbangaan saat ini. Sama pentingnya dengan teknikal skill adalah mengenali perlunya untuk melatih apa yang disebut dengan Non-teknikal skill. Mereka umumnya berurusan dengan hal yang abu \u2013 abu sehingga sulit untuk dikuantifikasi. Subjek dari non-teknikal skill ini misalnya motivasi, interaksi social, <em>leadership<\/em>, <em>common sense<\/em> dan <em>communication skills<\/em>. <strong>Tabel 1<\/strong>, memberikan list dari tipikal subjek pelatihan pilot yang bersifat Non-teknis<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"559\" src=\"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Tabel-1-tipikal-subjek-pelatihan-penerbang-non-teknis-1024x559.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-838\" srcset=\"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Tabel-1-tipikal-subjek-pelatihan-penerbang-non-teknis-1024x559.jpg 1024w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Tabel-1-tipikal-subjek-pelatihan-penerbang-non-teknis-300x164.jpg 300w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Tabel-1-tipikal-subjek-pelatihan-penerbang-non-teknis-768x419.jpg 768w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Tabel-1-tipikal-subjek-pelatihan-penerbang-non-teknis-460x250.jpg 460w, https:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2020\/01\/Tabel-1-tipikal-subjek-pelatihan-penerbang-non-teknis.jpg 1448w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption><br> <strong>Tabel 1: <\/strong>Tipikal Subjek Pelatihan Penerbang Non-teknis <\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Kebijakan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah (<em>Civil\nAviation Auhority\/CAA<\/em>) dapat berperan aktif dengan mengeluarkan kebijakan \u2013\nkebijakan berupa <em>Safety Alert<\/em> kepada <em>Air Operator<\/em>, untuk\nmelakukan pendekatan secara terintegrasi dengan menyertakan penekanan pada \u201c<em>manual\nflight operation<\/em>\u201d kedalam baik \u201c<em>Line Operation<\/em>\u201d maupun \u201c<em>Training\n(initial\/up-grade\/recurrent)<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Air Operator<\/em> dapat me-review dan mengembangkan kebijakan\noperasional internal perusahaan untuk memastikan bahwa ada kesempatan yang\ntepat bagi penerbang \u2013 penerbangnya untuk melatih <em>manual flying skill<\/em>,\nseperti misalnya jika berada di <em>Non-RVSM airspace<\/em> dan selama kondisi <em>workload<\/em>\nrendah.<\/p>\n\n\n\n<p>Disamping itu, <em>air operator<\/em> dapat mengembangkan\natau me-review kebijakan internal dalam rangka memastikan bahwa penerbang \u2013\npenerbangnya memahami kapan harus menggunakan <em>automated system<\/em>, seperti\nmisalnya dalam <em>high workload condition<\/em> atau <em>airspace procedures<\/em>\nyang memerlukan penggunaan <em>autopilot<\/em> untuk operasi yang presisi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aspek Finansial<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu issue\nyang menyebabkan calon siswa penerbang berbakat tidak dapat memperoleh\npendidikan penerbang adalah karena relatif mahalnya biaya pendidikan penerbang.\nUntuk dapat menurunkan biaya pendidikan tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan\nadalah dengan membuat kerjasama antara Sekolah Penerbang dengan <em>Air Operator<\/em>.\n\n\nLulusan Sekolah Penerbang (<em>Certified Pilot<\/em>) dapat langsung\nditerima bekerja di <em>Air Operator<\/em> tersebut. Dengan adanya jaminan\nditerima bekerja, maka <em>student pilot<\/em> dapat memohon pinjaman (<em>loan<\/em>)\ndengan <em>zero interest<\/em> kepada sebuah Yayasan yang di <em>set up<\/em> untuk\nmemberikan dukungan keuangan kepada <em>student pilot<\/em>. Yayasan itu sendiri\ndapat dibentuk dengan bekerjasama dengan Sekolah Penerbang dan <em>Air Operator<\/em>.\nBantuan pinjaman tersebut akan diberikan kepada <em>student pilot<\/em> sampai\ndengan jumlah biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan keseluruhan pendidikan\npenerbang.\n\n\n\n<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prediksi Tentang Konsep Pendidikan Penerbang Masa Datang Berbasis Pada Analisa Tantangan \u2013 Tantangan Yang Dihadapi Industri Penerbangan Di Indonesia Saat ini OlehEdwin Soedarmo \u2013 CSE Aviation ConsultantJakarta, Januari 2020 V.\u2026 <a href=\"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=836\" class=\"read-more-link\">read more &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,16,6],"tags":[86,82,90,91,66,39,113,120],"class_list":["post-836","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-media-coverage","category-news","tag-consultant","tag-cse","tag-pendidikan","tag-penerbang","tag-aviation","tag-cse-aviation","tag-konseppendidikanpenerbanganmasadatang","tag-pelatihan"],"views":14542,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=836"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":839,"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/836\/revisions\/839"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}