{"id":820,"date":"2020-01-11T04:02:26","date_gmt":"2020-01-11T04:02:26","guid":{"rendered":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=820"},"modified":"2020-01-11T04:16:39","modified_gmt":"2020-01-11T04:16:39","slug":"cse-aviation-rasio-pendapatan-dan-biaya-pada-airline","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=820","title":{"rendered":"CSE Aviation &#8211; Rasio Pendapatan dan Biaya pada Airline"},"content":{"rendered":"\n<p>Sebelum mendiskusikan <em>financial<\/em> rasio pada <em>Airline,<\/em> sebaiknya kita melihat dahulu karakteristik <em>services<\/em> (produk) yang ada pada <em>Airline<\/em> tersebut. Dengan melihat <em>Nature of Business<\/em> suatu <em>Airline<\/em> yang mana adalah memindahkan sejumlah orang atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya karena melalui udara sehingga harus dilakukan oleh pesawat udara yang benar-benar dipersiapkan oleh semua disiplin Ilmu menjaga agar tidak boleh gagal. Dan jenis <em>services<\/em> tersebut ada dua jenis <em>service<\/em> yaitu <em>tidak<\/em> <em>berjadwal,<\/em> CASR 135 <em>max<\/em> 30 <em>Pax <\/em>dan<em> berjadwal<\/em>, CASR 121 untuk jumlah <em>pax<\/em> &gt; 30 <em>Pax<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Services<\/em> tidak berjadwal (<em>CHARTER<\/em>); <\/strong>sebagai <em>services<\/em> (produk) adalah kesiapan kemampuan (<em>capability<\/em>) dari satu jenis pesawat yang mempunyai kapasitas <em>pax<\/em> dan jangkauan <em>max<\/em> terbang (<em>flight hours<\/em>) yang siap untuk diterbangkan dari satu tempat ke tempat lainnya atau <em>Original Destination<\/em> (OD) dinamakan <em>Services<\/em> tersebut dinamakan sebagai <em>Charter Flight<\/em> atau sewa pemakaian pesawat udara berdasarkan jam terbang, dimana OD dan Jadwal waktu terbangnya akan ditentukan oleh <em>Customer<\/em>. Sehingga dalam penawaran harga jual <em>service<\/em> tersebut biasanya tidak melihat harga untu satu kursi tetapi berdasarkan harga per <em>Flight Hour<\/em>. Dan total harga sewanya adalah jumlah total jam terbang x sewa per <em>flight hour<\/em> ditambahkan dengan biaya MOB dan DEMOB, yaitu MOBbilisai dan DEMOBilisasi atau untuk memposisikan pesawat yang disewa dari OD dan kembali ke tempat semula (<em>Base<\/em>). <\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Services<\/em> berjadwal (<em>REGULAR<\/em>); <\/strong>sebagai <em>services<\/em> (produk) adalah kesiapan sejumlah kursi yang akan diterbangkan untuk mengangkut <em>Pax<\/em> dari satu tempat ke tempat lainnya (OD), jenis pesawat, dan jadwal penerbangan telah ditentukan oleh <em>Airline<\/em> tersebut. Untuk memudahkan pengertian suatu produksi OD pada <em>Regular Airline<\/em> biasa juga disebut suatu <em>ROUTE <\/em>dan dalam <em>service<\/em> (produk) yang ditawarkan oleh suatu <em>Airlineregular<\/em> biasanya jenis in <em>flight servives<\/em> nya ada <em>full services <\/em>atauLCC<em> (low cost <\/em>atau tidak ada<em> services), <\/em>sedangkan untuk jenis kursi terdapat 3 <em>type Class<\/em>&nbsp; yaitu: <em>First Class<\/em>, <em>Business Class<\/em>, <em>Economic Class<\/em> yang siap untuk diterbangkan pada <em>Route <\/em>dengan jadwal hari dan jam yang telah ditentukan. <\/p>\n\n\n\n<p> Didalam Tulisan ini yang akan di diskusikan adalah <em>Airline<\/em> (AOC 121). dengan karakteristik <em>Full Service<\/em> dan <em>Regular<\/em> yang memiliki komponen sebagai pendukung produk adalah <strong><em>Route<\/em> &nbsp;<\/strong>dan <strong>jadwal<\/strong> yang akan Jual dan diterbangkan sebagai <em>Services<\/em><strong>, <\/strong>Untuk itu suatu <em>Airline<\/em> jika akan memulai membuka penerbangan <em>Route<\/em> baru, maka agar dapat mengetahui berapa pendapatan, biaya dan <em>profit<\/em> yang dihasilkan, &nbsp;maupun menentukan <em>Breakeven Load Factor, <\/em>maka sebelum memulai operasi penerbangan pada <em>Route<\/em> tersebut dilakukan perencanaan dan penganalisaan yang menggunakan metode <em>ROUTE PROFITABILITY ANALYSIS<\/em>, dan hasil dari analisis tersebut akan digunakan sebagai referensi dalam menentukan (<em>PRICING STRATEGY<\/em>) terhadap harga <em>ticket<\/em> yang akan diberlakukan pada <em>route<\/em> dan jadwal yang ditawarkan. <\/p>\n\n\n\n<p> Sesuatu <em>Paradox<\/em> telihat setelah <em>Airline<\/em> tersebut beroperasi dalam melayani <em>Route<\/em> baru yang diterbangkan dengan pesawat untuk membawa <em>Customer<\/em> sebagai <em>Pax<\/em>, pada kenyataannya dalam menghitung <em>performance<\/em> perusahaan dilakukan dengan metode perhitungannya melalui agregat atau YIELD.  <\/p>\n\n\n\n<p> Proses menghitung <em>performance<\/em> suatu <em>Airline<\/em> dengan metode Yield merupakan Rasio&nbsp; dari kumpulan (<em>aggregate)<\/em>&nbsp; dari seluruh pendapatan yang dibandingkan(dibagi) dangan kumpulan <em>aggregate<\/em> dari seluruh <em>passenger<\/em> yang dikalikan dengan seluruh km terbang pada kurun waktu tertentu. Dan untuk menghitung metode tersebut kita harus menggunakan tahapan sebagai berikut : <\/p>\n\n\n\n<p><strong>ASK<\/strong> (<em>Available Seat Kilometers<\/em>) = Total Jumlah Kursi dikali Total Jumlah Jarak Terbang Km, untuk semua <em>route<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>RPK<\/strong> (<em>Revenue Passenger Kilometer<\/em>) = Total Jumlah Penumpang yang Membayar dikalikan Total Jumlah Jarak Terbang Km, untuk semua <em>route<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>PRASK <\/strong>(<em>Passenger Revenue per Available Seat Kilometer<\/em>) = Total Pendapatan dibagi ASK (Total Kursi) adalah Pendapatan rata-rata yang dibayar per <em>pax<\/em> per Km. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>CASK <\/strong>(<em>Cost per Available Seat Km<\/em>) = Total <em>expenses<\/em> dibagi total ASK = Biaya per kursi per Km. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>PRASK \u2013 CASK<\/strong> adalah <em>Operation Profit<\/em> Rata per <em>Pax<\/em> per kursi per Km.  <\/p>\n\n\n\n<p><strong>RRPK (Yield)<\/strong> = pendapatan per pax per km = Total <em>passenger revenue<\/em> dibagi RPK (total <em>Pax<\/em>.KM). <\/p>\n\n\n\n<p><strong>BLF<\/strong> (<em>Breakeven Load Factor<\/em>) = CASM dibagi RRPM. <\/p>\n\n\n\n<p> Terlihat bahwa perhitungan rasio antara pendapatan dan biaya didalam <em>Airline<\/em> bisnis ada dua metode yaitu :  <\/p>\n\n\n\n<p> Satu yaitu secara Accounting berupa <em>Profit<\/em>, <em>Lost<\/em>, <em>Cash Flow<\/em> dan <em>Balance Sheet<\/em> dimana Proses tersebut adalah berupa laporan atau potret <em>Finansial<\/em> satu periode waktu bagi Perusahaan dilakukan dalam satuan bulan atau tahun., seperti dalam tulisan sebelumnya dijelaskan bahwa <em>Profit<\/em> atau <em>Lost<\/em> tidak dapat berdasakan proses &nbsp;<em>matching between cost against revenue<\/em>, hal tersebut karena pencatatan accounting tidak menyelaraskan pendapatan dan biaya pada satu <em>route<\/em> atau OD atau <em>Services<\/em> (<em>Product<\/em>) yang ditawarkan oleh <em>Airline<\/em> sebagai <em>Service<\/em> (produk). Dimana seharusnya melakukan <em>ROUTE PROFITABILITY MONITORING<\/em>. Yaitu mencocokan biaya terhadap pendapatan pada satu waktu yang sama untuk setiap <em>route<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan metode perhitungan rasio yang kedua adalah secara Aggregate atau pencacahan dari jumlah total pendapatan maupun total biaya dengan menggunakan ASK, RPK dan PRASK, CASK yang akan menjadi RRKA atau Yield, per\/kursi per\/km. Dengan cara ke dua ini pun belum tercerminkan proses <em>matching<\/em> atau pencocokan antara Pendapatan dan Biaya pada pada kurun waktu yang sama untuk setiap <em>Route<\/em> sebagai <em>service<\/em> (produk) dari <em>Airline<\/em> yang ditawarkan, karena dengan cara Agrreage tersebut dijumlahkan dahulu seluruh pendapatan dan biaya perusahaan baru dicacah atau dicari rata-rata per kursi dan per Km. <\/p>\n\n\n\n<p> Terlihatbahwa metode yang kedua juga tidak mengikuti kaidah terhadap \u201c<em>Matching Cost Against Revenue<\/em>\u201d <em>for same product and same period time<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Karena\ndidalam mengikuti kaidah dunia penerbangan atau <em>Airline<\/em> untuk melihat <em>performance<\/em>\nsebaiknya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Route<\/em><\/strong> itu adalah <em>Original\nDestination<\/em> (OD) yang dipakai sebagai <em>service<\/em>\nyang berjadwal,<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biaya<\/strong> harus di dicocokan (<em>matching)<\/em> terhadap pendapatan pada <em>route<\/em> berjadwal. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Memonitor<\/strong> biaya dan pendapatannya pada <em>route<\/em> yang sama dan kurun waktu yang sama,<em> Route Profitability Monitorin<\/em>g. <\/p>\n\n\n\n<p>Didalam <em>structure organization responsibility<\/em>, tanggung jawab didalam struktur organisasi pun tidak terlihat ada yang bertanggung jawab terhadap <em>Route profitability<\/em>, Dimana dibawah Direktur Komersial ada yang namanya <em>District Manager<\/em> (DM) yang membawahi satu wilayah kota untuk hal-hal komersial seperti <em>sale<\/em>, <em>promotion<\/em> dan <em>departure control<\/em>. Mengambil contoh <em>route<\/em> Bandung ke Surabaya, maka di struktur organisasi di Bandung ada DM-Bandung dan di Surabaya ada DM-Surabaya dan jika penerbangan <em>route<\/em> tersebut menguntungkan, maka siapa yang akan diberi <em>reward<\/em> tetapi jika merugikan siapa yang harus bertanggung jawab, dalam hal <em>jobdescription<\/em> atas posisi DM di Bandung maupun Surabaya tidak terlihat mempunyai <em>responsibility<\/em> terhadap <em>profit<\/em> pada <em>route<\/em> tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Masalah yang terlihat (<em>Problem Finding<\/em>) Perhitungan yang sekarang dilakukan dengan Rasio <em>Financial<\/em> dan Rasio Agregat itu belum mencerminkan perbandingan biaya terhadap pendapataan dari suatu Produk <em>Airline<\/em>, yaitu Jadwal penerbangan pada suatu <em>route<\/em>. Sehingga yang dijadikan dasar sebagai perhitungan-perhitungan belum mencerminkan <em>Matching Cost Against Revenue of One Product<\/em>. Dan Dari struktur organisasi juga belum ada yang bertanggung jawab atas <em>profit<\/em> pada suatu <em>route<\/em>, karena DM hanya bertanggung jawab atas komersial yaitu pendapatannya saja di area kotanya saja bukan di <em>route<\/em>nya dan juga tidak pernah bertanggung jawab atas biaya dimana diperlukan pencocokan biaya terhadap pendapatannya agar dapat mengetahui <em>profit route<\/em> tersebut. Dengan demikian sangat sulit sekali <em>Top Management<\/em> suatu <em>Airline<\/em> dapat melihat apakah satu <em>route<\/em> itu pendapatannya yang kurang atau biayanya yang terlalu besar sehingga apakah <em>route<\/em> tersebut untung atau rugi. Hal ini yang menyebabkan suatu <em>route<\/em> yang sangat Rugi (<em>Bleeding<\/em>) tidak dapat segera dikoreksi sehingga tetap terus dijalankan dengan posisi Rugi. Dengan demikian untuk membawa <em>Airline<\/em> terbang dengan aman <em>operational<\/em> dan sehat <em>finansial<\/em> pada setiap <em>route<\/em>nya perlu <em>Replatforming<\/em> terhadap konsep perhitungan maupun konsep <em>monitoring<\/em> dan perlu <em>inovasi<\/em> terhadap <em>structure<\/em> organisasi agar tugas dan tanggung jawab (<em>Responsibility<\/em>) suatu <em>route<\/em> menjadi jelas. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada Perencanaan <em>ROUTE PROFITABILITY ANALYSIS<\/em>,<\/p>\n\n\n\n<p>Pada Pelaksanaan <em>ROUTE PROFITABILITY MONITORING<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada Organisasi <em>ROUTE RESPONSIBILITY COST against REVENUE<\/em> <\/p>\n\n\n\n<p>Semoga tahun 2020 kedepan <em>Flight Carrier<\/em> Negara dapat terbang dengan Aman dan Sehat, Operation dan Financial baik di Domestik maupun International. <\/p>\n\n\n\n<p>Jakarta, 11 Januari 2020<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Samudra Sukardi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Vice Chairman CSE Aviation. <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum mendiskusikan financial rasio pada Airline, sebaiknya kita melihat dahulu karakteristik services (produk) yang ada pada Airline tersebut. Dengan melihat Nature of Business suatu Airline yang mana adalah memindahkan sejumlah\u2026 <a href=\"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=820\" class=\"read-more-link\">read more &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,6],"tags":[80,78,83,82,79,66,99,104,103,39,98,97],"class_list":["post-820","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-news","tag-airline","tag-bumn","tag-consulting","tag-cse","tag-topmanagement","tag-aviation","tag-biaya","tag-casr121","tag-casr135","tag-cse-aviation","tag-pendapatan","tag-rasiopendapatandanbiayapadaairline"],"views":26889,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/820","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=820"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/820\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":822,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/820\/revisions\/822"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=820"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=820"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=820"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}