{"id":798,"date":"2019-12-30T07:25:58","date_gmt":"2019-12-30T07:25:58","guid":{"rendered":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=798"},"modified":"2019-12-30T07:55:16","modified_gmt":"2019-12-30T07:55:16","slug":"cse-aviation-konsep-pendidikan-penerbang-masa-datang-part-i","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=798","title":{"rendered":"CSE Aviation &#8211; KONSEP PENDIDIKAN PENERBANG MASA DATANG (Part I)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\">Prediksi Tentang Konsep Pendidikan Penerbang Masa Datang Berbasis Pada Analisa Tantangan \u2013 Tantangan Yang Dihadapi Industri Penerbangan Di Indonesia Saat ini\u00a0<br><em>Oleh<\/em><br><em>Edwin Soedarmo \u2013 CSE Aviation Consultant<\/em><br> Jakarta, Desember 2019 <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"770\" height=\"230\" src=\"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/edwin-soedarmo1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-799\" srcset=\"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/edwin-soedarmo1.jpg 770w, http:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/edwin-soedarmo1-300x90.jpg 300w, http:\/\/www.cse-aviation.biz\/wp-content\/uploads\/2019\/12\/edwin-soedarmo1-768x229.jpg 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 770px) 100vw, 770px\" \/><figcaption>Ir. Edwin Soedarmo, MM-MBA<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>I. PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p> Tulisan ini membahas tentang <em>prediksi<\/em> kedepan Konsep Pendidikan Penerbang (melalui sekolah Penerbang atau <em>Pilot School<\/em>), berdasarkan analisa dari tantangan \u2013 tantangan aktual yang terjadi saat ini di Indonesia berikut potensi pengembangannya. Tulisan ini juga membahas pengaruh dari prediksi tersebut untuk mengantisipasi kemajuan teknologi dalam \u201c<em>complex aircraft environment<\/em>\u201d maupun terhadap usaha \u2013 usaha mengatasi persoalan yang sekarang sedang terjadi dilingkungan Sekolah Penerbang di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Di era tahun 1970 an, ketika pilot \u2013 pilot saat itu tumbuh berkembang, menerbangkan sebuah <em>airline<\/em> diangap sebagai sebuah karier yang bergengsi (<em>prestigious career<\/em>). Pekerjaan yang ditawarkan tidak saja bergaji relatif besar tapi juga merupakan posisi yang dihormati di masyarakat. Tetapi hari ini, dengan pergeseran <em>mind-set<\/em> dalam <em>Business Airline Industry<\/em> yang didukung dengan kemajuan teknologi, hal itu sudah bukan lagi demikian kasusnya dimana secara umum karir <em>airline pilot<\/em> sudah terasa kehilangan kilaunya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu deregulasi terkait sistem transportasi udara di Indonesia telah menyebabkan tumbuh pesatnya <em>Airline<\/em> Industri Indonesia, yaitu <\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Individu\natau private entitas dapat menjadi <em>air operator<\/em><\/li><li>Business\nmodel <em>Low Cost Carrier<\/em> mendapatkan \u201c<em>clearance<\/em>\u201d untuk dioperasikan<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p> Deregulasi ini kemudian berakibat pada jumlah <em>air operator<\/em> di Indonesia bertambah jumlahnya dan ditambah dengan beroperasinya<em> Low Cost Carrier<\/em>, menyebabkan jumlah penumpang bertambah banyak secara signifikan (dua digit pertumbuhan). Sejalan dengan hal tersebut diatas, juga berakibat pada bertambah banyaknya pembelian dan pemesanan pesawat <em>jet<\/em>, kususnya <em>single aisle jet aircraft<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Deregulasi ini juga menyebabkan kebutuhan akan <em>pilot<\/em> menjadi tinggi. Sementara kebutuhan <em>pilot<\/em> yang tinggi ini ternyata banyak diisi oleh <em>pilot \u2013 pilot<\/em> asing terutama karena digerakan oleh kebijakan bisnis perusahaan (<em>quickly supplied<\/em>).  <\/p>\n\n\n\n<p>Saat itu dunia sempat mencatat bahwa pertumbuhan penumpang pesawat udara di Indonesia adalah termasuk yang tertinggi didunia. Sementara itu ditempat lain, seperti di Amerika Serikat, penerapan <em>Low Cost Carrier<\/em> berdampak sebaliknya. Beberapa perusahaan penerbangan <em>legacy<\/em>, seperti Pan \u2013 Am, telah menutup usahanya karena kalah bersaing dengan penerbangan \u2013 penerbangan berbiaya murah tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ketidak Sesuaian Dengan Kebutuhan Pasar (Market Mismatch)<\/strong> <br>Sebagai akibat dari bertambahnya jumlah pesawat <em>jet<\/em> yang beroperasi melayani jumlah penumpang yang meningkat, menyebabkan terjadinya kebutuhan yang tinggi akan <em>well-trained pilot<\/em> di Kawasan Asia dan Pacific, khususnya di Indonesia. Dilain pihak, <em>pilot \u2013 pilot<\/em> yang baru lulus (<em>fresh graduate<\/em>) dari Sekolah Penerbang di Indonesia masih membutuhkan 1,500 \u2013 2,000 jam terbang agar dapat menjadi \u201c<em>Airline Ready Pilot<\/em>\u201d. <em>Mismatch supply<\/em> dan <em>demand<\/em> tersebut, seperti telah disebutkan diatas, umumnya diatasi dengan mendatangkan (<em>hiring<\/em>) pilot \u2013 pilot dari luar Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Solusi untuk mengatasi m<em>ismatch<\/em> ini dengan menyewa <em>pilot \u2013 pilot<\/em> asing, dalam kurun dekade yang akan datang, akan menciptakan badai yang dapat mendatangkan dampak negatif bagi <em>airline industry<\/em> di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan solusi yang komprehensif yang dapat menyelesaikan persoalan diatas, baik dari segi kebijakan pemerintah maupun metoda pendidikan penerbang yang dapat menciptakan <em>Next Generation Pilot<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menurunnya \u201cPilot Flying Skills\u201d Dan \u201cProficiency\u201d<\/strong> <br>Hampir semua aktivitas pilot dalam setiap penerbangan merupakan pekerjaan rutin dan sangat prosedural. Dengan semakin majunya teknology pesawat terbang saat ini, pekerjaan \u2013 pekerjaan rutin tersebut kemudian diambil alih atau dilakukan secara automatis oleh sitem pesawat terbang yang canggih. <\/p>\n\n\n\n<p>Kemajuan teknologi ini ternyata membawa konsekwensi, yaitu berupa potensi ancaman terhadap keselamatan penerbangan karena <em>comfort zone<\/em> yang diciptakan. Sistem automatis pesawat terbang saat ini telah demikian <em>reliable<\/em> sehingga resiko yang ada dapat diminimalkan yang berakibat pada pilot merasa lebih tenang tetapi amat tergatung pada sistem automatisasi dipesawat yang diterbangkannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah laporan yang baru \u2013 baru ini dikeluarkan oleh FAA, menyatakan bahwa kesempatan bagi <em>pilot \u2013 pilot airline<\/em> untuk mempertahankan \u201c<em>flying proficiency<\/em>\u201d mereka dengan menerbangkan pesawat secara manual semakin bertambah terbatas. Banyak kebijakan airline yang membuat pilot \u2013 pilot tidak berani untuk mematikan <em>autopilot<\/em>. <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk pilot \u2013 pilot yang lebih senior, makin bertambahnya \u201c<em>long haul flying<\/em>\u201d maupun <em>standard operating procedure<\/em> yang membuat pilot \u2013 pilot tidak berani melakukan \u201c<em>hand flying<\/em>\u201d ternyata telah berakibat pada menurunya \u201c<em>manual flying proficiency<\/em>\u201d dari pilot \u2013 pilot yang bersangkutan.<br><em>Flight Safety Foundation<\/em>, dalam sebuah pernyataannya baru \u2013 baru ini, menyampaikan bahwa ketidak mampuan dari pilot \u2013 pilot untuk merespon terhadap kerusakan atau kehilangan mendadak (<em>unexpected loss<\/em>) dari sistem pesawat automatis harus mampu ditangani.  <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biaya Sekolah Penerbang Yang Relatif Mahal<\/strong> <br>Biaya pendidikan di sekolah \u2013 sekolah penerbang, seperti umumnya telah kita ketahui, adalah relatif mahal. Hal ini, salah satunya, menyebabkan calon \u2013 calon pilot yang berbakat yang kebetulan tidak memiliki dukungan pendanaan yang cukup lebih memilih mengembangkan kariernya di bidang pekerjaan yang lain. Banyak model bisnis bantuan pendanaan untuk siswa pilot telah dikembangkan diberbagai negara, salah satunya adalah dengan menggunakan konsep \u201c<em>Foundation<\/em>\u201d atau Yayasan. Namun apapun bentuk bisnisnya kunci keberhasilan bantuan pendanaan amat tergantung pada ada atau tidaknya kerjasama antara Sekolah Penerbang dengan Air Opeator sebagai pengguna lulusan sekolah penerbang. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Catatan Penting Untuk Keamanan Negara (<em>National Security<\/em>)<\/strong> Dengan perkembangan pola pikir yang sejalan dengan kemajuan teknologi saat ini, menyebabkan hampir semua informasi serta merta terbuka serta mudah diakses dan yang menyebabkan setiap orang juga ingin bisa terkoneksi. Moda transportasi udara menawarkan transportasi orang dan barang yang paling cepat saat ini dibanding dengan moda transportasi lainnya. Namun hal paling utama yang harus diperhatikan, terkait dengan keterbukaan yang didukung dengan kemajuan teknologi transportasi udara, adalah Keamanan Negara (<em>National Security<\/em>). Keamanan Negara harus tetap dipelihara agar keamanan negara tersebut tidak mudah ditembus melalui gelombang keterbukaan ini. Bahkan di Amerika Serikat, \u201c<em>The National Security of the US<\/em>\u201d bergantung pada sebuah <strong>Industri airline yang sehat<\/strong>. Sementara Industri airline yang sehat membutuhkan alat \u2013 alat transportasi (pesawat terbang) yang modern dan handal <em>(reliable<\/em>) serta pilot \u2013 pilot yang memiliki <em>skill<\/em> yang tinggi untuk mengoperasikan pesawat\u2013 pesawat tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p> Jakarta, 30 Desember 2019 <br><br><strong>Edwin Soedarmo<\/strong><br><strong>CEO CSE Aviation<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prediksi Tentang Konsep Pendidikan Penerbang Masa Datang Berbasis Pada Analisa Tantangan \u2013 Tantangan Yang Dihadapi Industri Penerbangan Di Indonesia Saat ini\u00a0OlehEdwin Soedarmo \u2013 CSE Aviation Consultant Jakarta, Desember 2019 I.\u2026 <a href=\"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/?p=798\" class=\"read-more-link\">read more &rarr;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,6],"tags":[86,73,87,90,88,66],"class_list":["post-798","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","category-news","tag-consultant","tag-cseaviation","tag-konseppendidikanpenerbangmasadatang","tag-pendidikan","tag-penerbangan","tag-aviation"],"views":1779,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=798"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/798\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":802,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/798\/revisions\/802"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.cse-aviation.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}